WHO Waspadai 12 Jenis Bakteri Baru

0
148
06d5ea03 5624 409f Ab75 679b768047c7 169
06d5ea03 5624 409f Ab75 679b768047c7 169

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) umumkan dua belas jenis kuman yang harus segera dicarikan obat antibiotik gres guna meredam perkembangannya.

WHO menganggap kedua belas kuman itu menjadikan ancaman terbesar bagi kesehatan manusia. Oleh karena itu, WHO menyerukan pemerintah dan perusahaan farmasi untuk memprioritaskan pengembangan obat gres guna melawan bakteri-bakteri itu.

WHO menggunakan beberapa kriteria untuk memilih dua belas kuman yang paling beresiko bagi manusia. Kriteria-kriteria itu antara lain tingkat resistensi yang tinggi, ratio maut yang disebabkan bakteri, prevalensi kuman di masyarakat dan kemampuan penanganan penyakit dalam sistem kesehatan.

Bakteri berbahaya yang telah menawarkan resistensi terhadap beberapa obat itu antara lain Acinetobacter baumannii dan Pseudomonas aeruginosa. Kedua kuman itu biasa didapat di rumah sakit atau rumah jompo. Biasanya, pasien yang gampang terkena kuman ini yaitu pasien yang menggunakan peralatan mirip ventilator atau kateter darah.

Enterobacteriaceae, yang mencakup kuman mirip E.coli dan klebsiella, juga termasuk kuman yang menjadikan ancaman besar pada kesehatan manusia.

“Bakteri ini bertanggung jawab untuk tingkat maut yang tinggi,” kata Dr Marie-Paule Kieny, tangan kanan eksekutif jenderal WHO untuk sistem kesehatan dan penemuan WHO.

Secara global, berdasarkan WHO, resistensi obat antibiotik telah terlihat di setiap negara. Dan kuman yang resisten terhadap obat diperkirakan mengakibatkan 700.000 maut setiap tahun. Jika tidak ada tindakan yang diambil guna menangani duduk perkara ini, WHO memperkirakan ‘gerombolan bakteri’ itu bisa membunuh 10 juta orang per tahun pada tahun 2050.

“Resiko maut dari kuman resisten yaitu dua hingga tiga kali lebih besar,” kata Dr Carmem Pessoa da Silva, koordinator resistensi antimikroba WHO.

Publikasi WHO itu ditujukan untuk Majelis Umum PBB pada 2016. Kajian berdikari perihal hal itu diilhami oleh temuan pemerintah Inggris, yang pada tahun kemudian menyimpulkan bahwa dunia kesehatan memerlukan daftar prioritas untuk menyelesaikan duduk perkara resistensi bakteri. Namun hingga sekarang obat gres untuk menangani duduk perkara itu masih belum ditemukan.

BACA JUGA:  Adenovirus, Virus Mirip Flu Menginfeksi Saluran Pernapasan

WHO sendiri telah merilis panduan untuk mempromosikan penelitian dan pengembangan obat gres guna melawan dua belas kuman itu. Namun, penelitian dan pengembangan itu sanggup memakan waktu selama 10 tahun sebelum kesudahannya obat tersebut bisa ‘dilempar’ ke pasaran.

“Antibiotik gres sulit untuk berkembang. Antibiotik biasanya dipakai sebagai pengobatan jangka pendek, bukan jangka panjang, yang berarti nilai insentif antibiotik kurang bagi perusahaan farmasi,” kata Kieny.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.