Bunda, Yuk, Kenali Penyakit yang Bisa Menular Lewat ASI

0
11
Bunda Yuk Kenali Penyakit Yang Bisa Menular Asi Alodokter
Bunda Yuk Kenali Penyakit Yang Bisa Menular Asi Alodokter

Air susu ibu (ASI) dikenal sebagai salah satu pilihan masakan utama pada bayi. Namun, ada beberapa penyakit yang mampu menular lewat ASI. Yuk, kenali penyakit apa saja yang mampu menular lewat ASI, sehingga Busui (ibu menyusui) mampu mencegah penularannya pada Si Kecil.

Memberikan ASI hingga anak berusia 2 tahun mampu memberi banyak manfaat bagi kesehatannya. Selain mempunyai kandungan nutrisi lengkap, ASI juga lebih mudah dan mampu mempererat ikatan ibu dan anak.

Penyakit-penyakit yang Bisa Menular Lewat ASI
ASI dihasilkan oleh badan ibu, sehingga beberapa penyakit yang dialami oleh ibu menyusui juga mampu menular lewat ASI. Selain itu, proses menyusui yang melibatkan kedekatan dan kontak eksklusif antara ibu dan bayi juga mampu memudahkan penularan penyakit ke bayi.

Penyakit-penyakit yang mampu menular ketika menyusui antara lain:

  1. Tuberkulosis (TBC)
    Cairan ASI memang tidak menularkan tuberkulosis (TBC), namun penyakit ini sangat gampang menular lewat cairan dari susukan pernapasan (droplet) yang menyebar ketika penderita bersin atau batuk.

Maka dari itu, ibu menyusui yang menderita tuberkulosis aktif (masih menular) disarankan untuk tidak menyusui secara eksklusif dan tetap memakai masker ketika berdekatan dengan bayinya. Bila ibu menyusui menderita TBC aktif, maka bayinya perlu menerima ASI perah.

Ibu menyusui yang menderita TBC gres diperbolehkan menyusui langsung, kalau sudah menjalani pengobatan tuberkulosis setidaknya 2 ahad dan kondisinya sudah dinyatakan tidak infeksius atau tidak berpotensi menularkan lagi.

  1. Hepatitis (A, B, C, E)
    Penularan hepatitis A dan E selama proses menyusui dinilai sangat jarang, sehingga Busui tak perlu terlalu khawatir. Ibu menyusui yang menderita hepatitis B dan C juga masih mampu menawarkan ASI kepada bayinya.

Namun, hepatitis B dan C mampu menular lewat darah. Bila ibu menyusui yang menderita hepatitis B atau C mengalami luka pada payudaranya, proses menyusui sebaiknya dihentikan dulu untuk sementara hingga luka sembuh.

Selain itu, bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi hepatitis B wajib menerima vaksinasi hepatitis B selama 1 tahun secara lengkap.

  1. Herpes simplex
    Ketika ibu menyusui mengalami herpes simplex, menyusui eksklusif masih mampu dilakukan selama tidak ada ruam herpes di payudara. Namun kalau ada ruam, maka proses menyusui sebaiknya dihentikan sementara, baik secara eksklusif maupun melalui ASI perah.
BACA JUGA:  Atasi Kram Dan Nyeri Perut Karena Haid Dengan Gerakan Yoga Ini, Praktis Ditiru

Hal ini alasannya ialah bayi yang kontak dengan ruam atau mengonsumsi ASI dari payudara yang terkena ruam mempunyai risiko tinggi untuk tertular bengkak ini.

  1. Cacar air
    Ibu menyusui yang mengalami cacar air 5 hari sebelum melahirkan atau 2 hari sesudahnya disarankan menghindari kontak eksklusif dengan bayi. Fase menularkan ini akan berlangsung 2 hari sebelum munculnya ruam hingga ruam benar-benar kering.

Walaupun tidak boleh kontak eksklusif untuk menghindari penularan, sumbangan ASI perah masih diperbolehkan. Setelah ruam cacar yang dialami mengering, Busui boleh kembali menyusui Si Kecil.

  1. Infeksi menular seksual (IMS)
    Masing-masing jenis bengkak menular seksual mempunyai rute penularan yang berbeda, termasuk lewat ASI. Pada ibu menyusui yang menderita HIV, tidak dianjurkan untuk menyusui sama sekali alasannya ialah penularan virus HIV mampu terjadi lewat ASI.

Pada ibu menyusui yang menderita trikomoniasis, dianjurkan untuk melaksanakan pengobatan terlebih dahulu sebelum menyusui bayinya. Sedangkan ibu yang menderita bengkak klamidia, gonore, dan HPV tidak tidak boleh menyusui anaknya.

Kondisi lain yang mampu menunda sumbangan ASI kepada bayi ialah ibu menyusui yang memakai narkoba, menderita bengkak virus HTLV (human T-cell lumphotrophic virus) tipe I atau II, atau diduga terinfeksi virus Ebola.

Sementara pada ibu menyusui yang sedang menderita DBD atau mastitis, serta ibu menyusui yang pernah atau sedang menderita kanker payudara, disarankan untuk berkonsultasi dulu dengan dokter sebelum menawarkan ASI ekslusif.

Walaupun ASI mempunyai manfaat untuk ibu dan bayi, Busui tetap perlu memerhatikan beberapa kondisi yang dipaparkan di atas sebelum menawarkan ASI untuk Si Kecil. Jika Busui mempunyai kondisi kesehatan tertentu, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter semoga sumbangan ASI tetap aman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.