Tak Hanya Sebabkan Obesitas, Sering Ngemil Dapat Mengganggu Kekebalan Tubuh

0
91

Ngemil alias mengonsumsi kudapan merupakan kebiasaan yang biasa dilakukan untuk mengisi waktu senggang atau mengganjal perut yang lapar. Misalnya saat menonton film, rasanya tidak lengkap kalau tidak ditemani oleh setoples keripik ubi atau popcorn. Saat tengah berguru pun, biskuit atau wafer terkadang mendampingi kita.

Kebiasaan ngemil diketahui tidak baik untuk tubuh. Penyakit mirip diabetes mellitus dan obesitas mampu menghampiri kalian. Selain itu, ngemil terlalu sering juga mampu menimbulkan sistem imun tubuh terganggu, lho.

Kebiasaan makan tiga kali sehari mulai berkembang semenjak selesai era ke-18. Namun belakangan ini, orang-orang mengonsumsi masakan lebih sering daripada yang pernah dilakukan sebelumnya diluar jam makan. Banyak dari kalian yang terus ngemil di luar jam makan.

Dilansir dari The Independent, tubuh mempunyai dua keadaan metabolisme yang berbeda, yakni berpuasa atau tanpa masakan dan pasca-makan. Keadaan pasca-makan yang absortif merupakan waktu yang secara metabolisme aktif untuk tubuh kalian. Saat makan, tidak hanya nutrisi yang terserap namun, sistem kekebalan tubuh akan terpicu untuk menghasilkan respon inflamasi sementara.

Peradangan merupakan respons normal tubuh terhadap nanah dan cedera yang akan menawarkan sumbangan terhadap rangsangan berbahaya. Hal ini mengambarkan setiap kali makan, akan menawarkan tingkat stres fisiologi pada sistem kekebalan tubuh. Jadi, kalau kalian ngemil terlalu sering, tubuh berakhir dalam kondisi peradangan yang hampir konstan.

Sekitar empat jam sesudah makan, mikroba usus dan komponennya bocor ke fatwa darah dan secara belakang layar memicu peradangan oleh sistem kekebalan tubuh. Proses ini sebagian besar didorong oleh aktivasi sensor imun kritis nutrisi yang disebut “inflammasome” yang melepaskan molekul inflamasi yang dikenal sebagai “interleukin-1β”.

Peradangan hanya dimaksudkan sebagai serangan sumbangan jangka pendek oleh sistem kekebalan tubuh. Tetapi, peradangan sesudah makan dikenal sebagai peradangan postprandial mampu diperburuk oleh gaya hidup modern. Hal ini termasuk masakan padat kalori, sering makan, fruktosa berlebihan dan masakan berlemak, terutama lemak jenuh.

BACA JUGA:  Masih Ogah Konsumsi Sayuran Hijau, 5 Manfaat Kesehatan Ini Bakal Bikin Kalian Berubah Pikiran

Peradangan postprandial yang persisten merupakan duduk perkara alasannya yaitu menjadikan kerusakan kolateral berulang pada tubuh yang mampu merusak kesehatan dari waktu ke waktu. Peradangan kronis tidak menular mirip penyakit jantung dan diabetes tipe 2 sering dikaitkan dengan gaya hidup.

“Kami masih belum tahu efek kumulatif pada risiko penyakit orang remaja yang sehat yang menghabiskan waktu lebih usang dalam keadaan inflamasi pasca-makan,” ujar Jenna Machioci. “Tetapi yang jelas, yaitu bahwa peradangan ringan yaitu pendorong terpenting penuaan yang tidak sehat.”

Machioci menjelaskan bahwa mengurangi frekuensi makan melalui puasa intermiten atau makan yang dibatasi dengan waktu mampu bermanfaat terhadap kesehatan manusia. Hal ini termasuk membantu penurunan tubuh dan menurunkan resiko penyakit metabolik, mirip diabetes.

Ngemil tidak hanya meningkatkan kemungkinan mengalami peradangan, tetapi mengonsumsi kalori berlebihan juga menimbulkan kenaikan berat badan. Berdasarkan data yang tersedia, fakta mengenai aspek fundamental dari kebiasaan diet, jumlah masakan yang dikonsumsi setiap hari belum menjadi subjek pemeriksaan ilmiah yang luar biasa.

“Jadi mungkin ada baiknya mengkonsolidasikan masakan Anda menjadi lebih sedikit, masakan yang lebih memuaskan,” katanya. “Anda mungkin juga ingin mengurangi waktu makan Anda menjadi sepuluh jam sehari atau kurang dari itu.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.